TripMoca mencatat perjalanan warga Indonesia ke luar negeri mengalami penurunan pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah perjalanan wisatawan nasional berada di angka 643,69 ribu perjalanan sepanjang bulan tersebut.
Jumlah itu turun 6,02 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Jika dibandingkan Juli 2026, penurunannya bahkan mencapai sekitar 19,81 persen.
Meski jumlah perjalanan menurun, kawasan Asia Tenggara masih menjadi tujuan penting bagi traveler Indonesia. Malaysia kembali menempati posisi teratas dengan pangsa 32,64 persen.
Informasi tersebut tercantum dalam data Kemenpar.
Perjalanan Wisatawan Indonesia Agustus 2026 Menurun
Jumlah 643,69 ribu perjalanan menunjukkan adanya koreksi setelah aktivitas perjalanan cukup tinggi pada pertengahan tahun.
Pada Juni, perjalanan wisatawan nasional mencapai sekitar 766,78 ribu. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi lebih dari 800 ribu perjalanan pada Juli.
Penurunan pada Agustus memperlihatkan kuatnya pengaruh musim liburan terhadap perjalanan internasional warga Indonesia.
Libur sekolah dan periode libur pertengahan tahun biasanya meningkatkan permintaan tiket pesawat serta perjalanan keluarga.
Setelah periode tersebut selesai, jumlah keberangkatan dapat kembali turun sebelum meningkat lagi menjelang liburan akhir tahun.
Harga tiket, nilai tukar mata uang, promosi maskapai, dan kondisi ekonomi rumah tangga juga dapat memengaruhi keputusan masyarakat untuk bepergian.
Malaysia Tetap Menjadi Tujuan Favorit
Malaysia menjadi negara tujuan utama dengan pangsa 32,64 persen dari seluruh perjalanan wisatawan Indonesia pada Agustus.
Kedekatan geografis menjadi salah satu faktor yang mendukung posisi tersebut.
Penerbangan dari beberapa kota di Indonesia menuju Malaysia memiliki durasi relatif pendek.
Rute menuju Kuala Lumpur juga dilayani berbagai maskapai, termasuk penerbangan berbiaya rendah yang sering menjadi pilihan traveler.
Selain Jakarta, penerbangan menuju Malaysia tersedia dari sejumlah kota besar seperti Medan, Surabaya, Bali, dan beberapa wilayah lain.
Kuala Lumpur juga berfungsi sebagai hub untuk perjalanan lanjutan ke destinasi lain.
Situasi tersebut membuat Malaysia tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga titik transit penting.
ASEAN Masih Mendominasi Perjalanan Internasional
Negara-negara Asia Tenggara secara umum memiliki posisi kuat dalam perjalanan luar negeri warga Indonesia.
Jarak yang relatif dekat membuat biaya transportasi dapat lebih rendah dibandingkan perjalanan jarak jauh.
Traveler juga tidak membutuhkan waktu libur terlalu panjang untuk berkunjung ke negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, atau Vietnam.
Kondisi ini membuat kawasan ASEAN cocok untuk perjalanan singkat tiga hingga lima hari.
Pertumbuhan penerbangan langsung antarwilayah juga memperluas pilihan.
Traveler dari luar Jakarta semakin memiliki peluang bepergian tanpa harus selalu transit melalui ibu kota.
Soekarno-Hatta Menjadi Gerbang Terbesar
Bandara Soekarno-Hatta masih menjadi salah satu pintu utama perjalanan internasional.
Pada Agustus, bandara tersebut tercatat menangani sekitar 322,91 ribu perjalanan wisatawan nasional melalui jalur udara.
Angka tersebut menunjukkan peranan penting Jakarta dalam jaringan penerbangan internasional Indonesia.
Banyak wisatawan dari kota lain menggunakan Soekarno-Hatta sebagai titik transit.
Hal tersebut terjadi terutama untuk rute internasional yang belum tersedia secara langsung dari kota asal.
Bandara Ngurah Rai di Bali, Juanda di Surabaya, dan Kualanamu di Sumatra Utara juga memiliki peran dalam mobilitas internasional.
Namun secara volume, Soekarno-Hatta masih berada di posisi utama.
Wisata Domestik Bergerak ke Arah Berbeda
Ketika perjalanan ke luar negeri menurun, perjalanan domestik justru menunjukkan pertumbuhan.
Menurut statistik BPS, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 104,30 juta perjalanan pada Agustus.
Angka itu meningkat 11,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jawa Barat menjadi tujuan dengan jumlah perjalanan tertinggi, sekitar 18,71 juta perjalanan.
Jawa Timur berada di posisi berikutnya dengan 16,44 juta perjalanan, sedangkan Jawa Tengah mencatat sekitar 13,79 juta.
DI Yogyakarta menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan tinggi, yakni 29,64 persen secara tahunan.
Sulawesi Selatan juga membukukan pertumbuhan 16,27 persen menjadi sekitar 3,67 juta perjalanan.
Wisatawan Mancanegara ke Indonesia Naik
Pada waktu yang sama, jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia menunjukkan peningkatan.
Kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus mencapai sekitar 1,60 juta.
Jumlah tersebut meningkat 6,27 persen dibandingkan Agustus 2025.
Kenaikan ini memberikan dampak langsung bagi berbagai sektor pariwisata.
Hotel, restoran, transportasi, atraksi wisata, dan usaha lokal menjadi bagian yang dapat memperoleh manfaat dari peningkatan kedatangan wisatawan.
Tingkat penghunian kamar hotel berbintang pada Agustus juga mencapai 52,52 persen.
Angkanya meningkat 2,01 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Traveler Mulai Bersiap Menuju Akhir Tahun
Penurunan perjalanan pada Agustus belum tentu menandakan minat wisata internasional melemah dalam jangka panjang.
Pola perjalanan dapat berubah cukup cepat mengikuti kalender liburan.
Kuartal terakhir biasanya menjadi periode penting karena masyarakat mulai merencanakan Natal, Tahun Baru, serta cuti akhir tahun.
Maskapai juga kerap meningkatkan kapasitas pada rute yang memiliki permintaan tinggi.
Malaysia kemungkinan tetap menjadi salah satu destinasi utama karena akses yang mudah dan pilihan penerbangan yang beragam.
Namun negara lain di ASEAN juga dapat memperoleh peningkatan perjalanan seiring bertambahnya rute langsung.
Data beberapa bulan berikutnya akan menunjukkan apakah penurunan Agustus hanya merupakan koreksi musiman atau menjadi bagian dari perlambatan perjalanan internasional yang lebih panjang.
