Desa Wisata Edutrip 2026 Jadi Pilihan Belajar di Luar Kelas

Annas Sarkem
6 Min Read

Trip Moca mencatat desa wisata edutrip 2026 mulai mendapat perhatian sebagai alternatif perjalanan pendidikan bagi pelajar. Kementerian Pariwisata memperkenalkan enam desa wisata dalam 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026 untuk menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas.

Program tersebut mempertemukan pengelola desa wisata dengan pimpinan sekolah yang tergabung dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama.

Konsepnya sederhana.

Pelajar diajak memahami budaya, lingkungan, pertanian, kerajinan, hingga kehidupan masyarakat melalui pengalaman langsung.

Desa Wisata Edutrip 2026 Hadirkan Enam Destinasi

Enam desa yang diperkenalkan berasal dari beberapa daerah.

Daftarnya meliputi Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Desa Krebet di Bantul, Desa Les dan Sudaji di Buleleng, Desa Bugisan di Klaten, serta Desa Selamanik di Ciamis.

Setiap desa mempunyai karakter berbeda.

Ada desa yang kuat pada kerajinan.

Ada yang mengandalkan pertanian, budaya, alam, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Perbedaan tersebut memberi sekolah lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan perjalanan dengan kebutuhan pembelajaran.

Program tidak hanya diarahkan untuk kegiatan rekreasi.

Kemenpar ingin desa menjadi semacam laboratorium belajar di luar sekolah.

Desa Les Bawa Budaya dan UMKM

Salah satu peserta adalah Desa Wisata Les di Kabupaten Buleleng, Bali.

Pemerintah desa menyebut partisipasi dalam konvensi digunakan untuk memperkenalkan potensi wisata, budaya, kearifan lokal, serta produk UMKM kepada peserta.

Dalam informasi Desa Les, kegiatan tersebut diharapkan memperluas promosi sekaligus mendorong ekonomi masyarakat desa.

Pendekatan seperti ini menunjukkan edutrip tidak hanya memberi manfaat kepada siswa.

Belanja peserta, penggunaan pemandu lokal, homestay, konsumsi, dan aktivitas wisata dapat memberikan penghasilan bagi masyarakat.

Jika dikelola secara tepat, perjalanan sekolah dapat menciptakan dampak ekonomi yang lebih tersebar.

Belajar Pertanian hingga Kerajinan

Konsep edutrip di desa jauh berbeda dari study tour yang hanya mengunjungi objek populer.

Aktivitas dapat dibuat lebih partisipatif.

Pelajar bisa melihat proses bertani, mencoba membuat kerajinan, belajar memasak makanan tradisional, atau memahami sistem pengelolaan lingkungan.

Platform resmi Jadesta bahkan sudah menampilkan sejumlah paket edutrip.

Salah satunya berada di Desa Wisata Gubugklakah, Kabupaten Malang.

Program dua hari satu malam mencakup edukasi pertanian, kesenian, sejarah budaya, kerajinan, makanan tradisional, permainan lokal, hingga kunjungan menuju kawasan Bromo.

Format seperti ini mengubah perjalanan menjadi pengalaman belajar langsung.

Desa Terong Tawarkan Cerita Perubahan

Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung juga menjadi bagian dari promosi.

Pengelola desa menempatkan alam, kebudayaan, pendidikan, gastronomi, dan kreativitas masyarakat sebagai kekuatan utama destinasi.

Desa tersebut melihat kegiatan edutrip sebagai kesempatan memperlihatkan bahwa kawasan pedesaan dapat berkembang melalui potensi lokal tanpa kehilangan identitas.

Konsep ini relevan untuk pelajar.

Mereka tidak hanya melihat tempat wisata.

Mereka dapat mempelajari bagaimana masyarakat mengembangkan usaha, mengelola sumber daya, serta menjaga lingkungan.

Pembelajaran seperti ini sulit diperoleh hanya melalui buku.

Keselamatan Tetap Menjadi Syarat Penting

Perjalanan pelajar membutuhkan standar berbeda dari perjalanan wisata umum.

Sekolah harus mempertimbangkan transportasi, homestay, sanitasi, pendamping, keamanan aktivitas, serta prosedur darurat.

Kementerian Pariwisata menyebut kesiapan fasilitas dan keselamatan menjadi bagian yang diperhatikan dalam pengembangan edutrip.

Hal tersebut penting karena banyak aktivitas berlangsung langsung di lingkungan masyarakat.

Sawah, sungai, bengkel kerajinan, atau area perkebunan bukan ruang kelas yang sepenuhnya terkendali.

Karena itu, pengelola perlu memiliki prosedur yang jelas.

Sekolah juga perlu menyesuaikan aktivitas dengan umur peserta.

Indonesia Sudah Punya Ribuan Desa Wisata

Pengembangan edutrip berada di tengah pertumbuhan jumlah desa wisata nasional.

Kemenpar mencatat hingga awal September 2026 terdapat sekitar 6.400 desa wisata di Indonesia.

Angka tersebut memberi pilihan yang sangat besar.

Namun tidak semua desa otomatis siap menerima rombongan pelajar.

Program edutrip membutuhkan kurasi.

Aktivitas harus memiliki nilai pembelajaran.

Fasilitas perlu memadai.

Masyarakat juga harus mampu menerima kunjungan dalam jumlah tertentu tanpa mengganggu aktivitas lokal.

Kualitas akhirnya lebih penting dibandingkan sekadar jumlah destinasi.

Edutrip Bisa Menjadi Alternatif Study Tour

Selama ini perjalanan sekolah sering berpusat pada kota besar, taman rekreasi, museum, atau objek wisata populer.

Desa wisata memberi alternatif berbeda.

Pengalaman menjadi lebih interaktif.

Pelajar dapat melihat hubungan antara lingkungan, ekonomi lokal, dan budaya dalam satu tempat.

Contohnya, aktivitas pertanian tidak hanya mengajarkan bagaimana tanaman dibudidayakan.

Siswa juga dapat memahami rantai produksi, perubahan iklim, hingga bagaimana hasil tani mendukung ekonomi keluarga.

Kerajinan pun dapat dikaitkan dengan desain, budaya, bisnis, dan keberlanjutan.

Perjalanan yang Memberi Dampak Langsung

Konsep desa wisata edutrip 2026 juga sejalan dengan arah pariwisata berbasis masyarakat.

Alih-alih seluruh belanja wisata terkonsentrasi pada perusahaan besar, sebagian pengeluaran dapat langsung masuk ke homestay, UMKM, pemandu lokal, kelompok seni, atau petani.

Dampaknya berpotensi lebih terasa di tingkat desa.

Namun pertumbuhan kunjungan tetap perlu dijaga.

Terlalu banyak wisatawan dapat mengubah kehidupan masyarakat atau justru merusak lingkungan yang menjadi daya tarik utama.

Karena itu, edutrip idealnya tidak hanya mengajarkan peserta tentang desa.

Program juga harus menghormati ritme kehidupan warga.

Bagi sekolah dan keluarga, tren ini membuka cara baru melihat perjalanan pendidikan.

Destinasi tidak harus selalu terkenal.

Desa yang mampu menghadirkan pengalaman autentik, aman, dan terstruktur bisa menjadi ruang belajar yang jauh lebih hidup dibandingkan pembelajaran satu arah di dalam kelas.

Share This Article