Asal Mula Martabak: Perjalanan Kuliner dari Timur Tengah ke Asia Tenggara

BagasAdityawir
2 Min Read

Martabak adalah salah satu makanan jalanan paling populer di Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa hidangan ini memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai budaya dan wilayah.

Akar dari Timur Tengah dan India

Kata “martabak” diyakini berasal dari bahasa Arab “mutabbaq” yang berarti “dilipat”. Hidangan ini pertama kali dikenal di wilayah Timur Tengah, khususnya di Yaman dan Arab Saudi, sebagai roti tipis yang diisi daging berbumbu lalu dilipat dan digoreng.

Seiring dengan perdagangan dan migrasi, makanan ini menyebar ke India. Di sana, martabak mengalami adaptasi rasa dan dikenal sebagai murtabak, dengan isian daging kambing, telur, dan rempah-rempah khas India.

Masuk ke Asia Tenggara

Martabak kemudian dibawa oleh para pedagang dan perantau Muslim dari India dan Arab ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Di Indonesia, martabak mulai dikenal luas pada masa kolonial dan berkembang pesat di kota-kota besar.

Evolusi di Indonesia

Di Indonesia, martabak mengalami transformasi unik menjadi dua jenis utama:

1. Martabak Telur
Versi gurih yang lebih dekat dengan bentuk aslinya. Biasanya berisi campuran telur, daging cincang, daun bawang, dan rempah, lalu digoreng hingga renyah.

2. Martabak Manis
Dikenal juga sebagai Terang Bulan di beberapa daerah. Ini adalah inovasi lokal Indonesia yang tidak ditemukan di Timur Tengah. Teksturnya tebal seperti pancake, dengan topping manis seperti cokelat, keju, kacang, hingga susu kental manis.

Ciri Khas dan Popularitas

Martabak menjadi sangat populer karena:

  • Mudah ditemukan sebagai makanan kaki lima
  • Variasi rasa yang fleksibel
  • Cocok dinikmati kapan saja, terutama malam hari

Saat ini, martabak bahkan telah berevolusi menjadi versi modern dengan topping kekinian seperti matcha, Nutella, dan Oreo, menjadikannya tetap relevan di berbagai generasi.

Penutup

Dari Timur Tengah hingga Indonesia, martabak adalah contoh nyata bagaimana makanan dapat beradaptasi dan berkembang mengikuti budaya lokal. Perjalanannya yang panjang menjadikan martabak bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner lintas budaya.

Share This Article