Extreme Daytrip 24 Jam: Tren Liburan Kilat yang Makin Populer di 2026

Annas Sarkem
8 Min Read

Pagi naik pesawat, siang makan di negara lain, sore jalan-jalan, malam sudah dalam perjalanan pulang. Kedengarannya seperti jadwal orang yang salah beli tiket, tetapi konsep seperti ini justru punya nama: extreme daytrip.

Tren ini mengacu pada perjalanan yang diselesaikan dalam waktu sekitar 24 jam tanpa menginap. Expedia melaporkan pada April 2026 bahwa satu dari empat traveler Milenial dan Gen Z di Amerika Serikat berencana melakukan perjalanan internasional satu hari pada tahun ini.

Jelas, tidak semua orang akan tertarik. Namun, kemunculan tren ini menunjukkan bahwa definisi “liburan” semakin fleksibel.

Apa Itu Extreme Daytrip?

Extreme daytrip adalah perjalanan singkat yang dimulai dan diselesaikan pada hari yang sama. Versi paling ekstremnya bahkan melibatkan penerbangan internasional: terbang pagi, menghabiskan beberapa jam di destinasi, lalu pulang malam.

Bedanya dengan day trip biasa ada pada skalanya. Kalau perjalanan sehari biasanya dilakukan dari kota A ke kota terdekat, extreme daytrip bisa melibatkan bandara dan negara berbeda.

Kenapa Tidak Sekalian Menginap?

Pertanyaan ini memang masuk akal.

Bagi sebagian traveler, masalahnya bukan selalu uang. Waktu cuti yang terbatas membuat perjalanan singkat terasa lebih realistis dibanding liburan beberapa hari.

Ada juga orang yang sekadar ingin mencoba satu restoran, melihat pameran, menghadiri acara, atau merasakan suasana kota tanpa membuat perjalanan panjang.

Kenapa Extreme Daytrip Mulai Populer?

Expedia mengaitkan peningkatan minat perjalanan semacam ini dengan perubahan gaya liburan dan pengaruh konten perjalanan berdurasi pendek di media sosial. Traveler melihat bahwa perjalanan tidak selalu harus berarti cuti panjang dan koper besar.

Selain itu, tiket murah pada rute tertentu juga bisa membuat perjalanan singkat terlihat menggoda.

Namun, murah di harga tiket belum tentu berarti murah secara keseluruhan. Transportasi bandara, makan, dan jadwal penerbangan tetap perlu dihitung.

Tidak Semua Trip Harus Tiga atau Tujuh Hari

Dulu, liburan sering terasa seperti proyek besar. Harus punya beberapa hari kosong, hotel, koper, daftar wisata, dan itinerary panjang.

Sekarang cara orang bepergian semakin beragam. Ada slow travel untuk orang yang ingin tinggal lebih lama, tetapi di sisi lain ada extreme daytrip untuk orang yang justru ingin perjalanan sangat singkat.

Dua tren itu terlihat bertolak belakang. Namun, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa traveler mulai memilih format perjalanan berdasarkan kebutuhan sendiri.

Apa yang Dilakukan dalam Waktu 24 Jam?

Ini bagian penting: jangan mencoba melakukan semuanya.

Extreme daytrip lebih masuk akal kalau punya satu tujuan utama. Misalnya makan siang di kawasan tertentu, melihat museum, menghadiri konser, atau sekadar berjalan di satu distrik yang memang ingin dikunjungi.

Kalau dalam delapan jam mencoba mengejar tujuh destinasi sekaligus, sebagian besar waktu justru habis untuk berpindah tempat.

Satu Area Lebih Masuk Akal

Pilih kawasan yang mudah dicapai dari titik kedatangan. Kalau mendarat di bandara, lihat berapa lama perjalanan ke pusat aktivitas dan bagaimana transportasi kembali ke bandara.

Konsepnya berbeda dari menyusun itinerary 3 hari, karena waktu yang tersedia jauh lebih pendek. Setiap perpindahan lokasi punya “harga” berupa waktu.

Jangan Buat Agenda Terlalu Ketat

Penerbangan bisa terlambat. Antrean imigrasi bisa lebih panjang dari perkiraan, begitu juga perjalanan di dalam kota.

Karena itu, agenda yang terlalu rapat justru berisiko membuat perjalanan terasa seperti lomba.

Sisakan ruang. Satu pengalaman yang benar-benar dinikmati lebih masuk akal daripada lima tempat yang hanya terlihat dari jendela kendaraan.

Apakah Extreme Daytrip Benar-Benar Lebih Hemat?

Tidak selalu.

Memang tidak ada biaya hotel. Namun, perjalanan singkat kadang membuat traveler memilih penerbangan dengan jam tertentu yang harganya lebih mahal atau mengandalkan transportasi cepat supaya tidak kehilangan waktu.

Karena itu, jangan hanya membandingkan “pakai hotel” dengan “tidak pakai hotel”.

Hitung seluruh pengeluaran. Prinsipnya sama seperti membuat budget liburan 3 hari: transportasi, makan, tiket aktivitas, bagasi, dan dana cadangan tetap perlu masuk hitungan.

Risiko Terbesarnya Justru Waktu

Pada perjalanan biasa, penerbangan terlambat dua jam mungkin menyebalkan. Dalam trip 24 jam, keterlambatan dua jam bisa mengambil porsi besar dari seluruh waktu liburan.

Itulah sebabnya extreme daytrip paling cocok untuk rute yang transportasinya relatif sederhana.

Kalau perlu transit berkali-kali atau perjalanan dari bandara ke kota membutuhkan waktu sangat panjang, konsep ini mulai kehilangan kepraktisannya.

Bawa Barang Sesedikit Mungkin

Keuntungan perjalanan satu hari adalah kamu tidak membutuhkan koper besar.

Tas kecil berisi dokumen, power bank, obat pribadi, charger, dan beberapa barang penting biasanya lebih praktis. Semakin banyak barang yang dibawa, semakin banyak waktu yang terbuang untuk mengurusnya.

Kalau bisa hanya membawa kabin, proses tiba dan pulang juga menjadi lebih cepat.

Jangan Mengorbankan Tidur Hanya demi Mengejar Tren

Ini sisi yang perlu diperhatikan.

Tiket termurah mungkin berangkat pukul 03.00 pagi dan kembali tengah malam. Secara teori memang bisa dilakukan, tetapi besoknya tubuh belum tentu setuju.

Travel tetap aktivitas fisik. Jalan kaki, berpindah transportasi, antre, dan kurang tidur bisa membuat perjalanan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi melelahkan.

Menariknya, tren perjalanan 2026 juga bergerak ke arah sebaliknya. Hilton menemukan bahwa alasan nomor satu responden global untuk melakukan perjalanan leisure pada 2026 adalah beristirahat dan recharge.

Jadi tidak ada kewajiban mengikuti format liburan yang sedang viral.

Versi Extreme Daytrip yang Lebih Realistis di Indonesia

Tidak harus langsung terbang ke negara lain.

Konsep perjalanan sehari bisa diterapkan dalam skala yang lebih santai: Jakarta–Bandung dengan kereta cepat, Surabaya–Malang, Yogyakarta–Solo, atau perjalanan ke kota yang punya koneksi transportasi sederhana.

Fokusnya sama. Berangkat pagi, menikmati satu kota, kemudian kembali malam.

Model seperti ini jauh lebih mudah dicoba sebelum memutuskan melakukan versi internasional.

Siapa yang Cocok Mencobanya?

Extreme daytrip cocok untuk traveler yang cukup fleksibel, tidak keberatan dengan jadwal perjalanan padat, dan memang punya tujuan yang spesifik.

Sebaliknya, orang yang ingin healing, bangun siang, atau menikmati hotel mungkin akan merasa konsep ini sangat tidak menarik.

Dan itu tidak masalah.

Tren travel bukan aturan yang harus diikuti semua orang.

Liburan Singkat Tetap Bisa Punya Cerita

Pada akhirnya, extreme daytrip menarik bukan karena semua orang sekarang harus terbang pulang-pergi dalam sehari. Tren ini hanya menunjukkan bahwa perjalanan bisa mengambil bentuk yang semakin beragam.

Ada orang yang senang tinggal satu bulan di satu kota. Ada juga yang puas datang delapan jam untuk makan, berjalan, mengambil beberapa foto, lalu pulang.

Yang penting bukan seberapa lama kita berada di destinasi. Kalau waktunya terbatas tetapi perjalanan punya tujuan yang jelas, bahkan satu hari pun bisa cukup untuk membawa pulang cerita baru.

You have not enough Humanizer words left. Upgrade your Surfer plan.

Share This Article